Archive for the ‘Prose’ Category
Langit kota Jeddah mulai menyiratkan semburat merahnya, menandakan senja yang perlahan mulai menyelimuri birunya awan. Dan lelah yang mulai menggayuti kelopak mataku seakan terhapus melihatnya berdiri menyambut langkahku.
Tak ada kata yang terucap saat itu, tapi..entahlah,
seperti ada yang berbisik di hatiku walau kucoba menepisnya pergi.
Senja berganti gelap, bis malam mulai melaju menyusuri padang pasir panjang. Saat itu, ingin kutatap lekat parasnya, tapi galau sontak menyergap dan kembali menahan pandanganku. Maaf, bila hati kembali kutepis pergi.
Aah, mendadak aku teringat manusia tak terjangkauku.
Telah lama ia menghilang. Ya, saat tetesan tintaku telah mengering untuk menceritakannya lagi. Dulu mungkin itu yang terbaik kulakukan.
Melupakannya. Melupakan Manusia tak terjangkauku.
Apa yang bisa kuceritakan tentangnya?
Dia menyadarkanku untuk melihat langit. Mataku dulu hanya melihat langit..ya sekedar langit biru. Kini kulihat langit dengan hati.
Semburat merah darah pernah bercipratan, menyilaukan mataku. Kemudian aku begitu terpukaunya dengan oranye yang begitu indah. Membuatku tersenyum, menyaksikan langit yang sedang bersolek.
Dulu langit..hanya langit bagiku. Kini, kuanggap di langit dia ada..
Dia masih ada, di dalam hatiku, tak pernah pergi.
Walaupun dia hanyalah manusia tak terjangkauku..
Wuuuuusssshhh…
realita sekarang kembali menyadarkan dari kenangan tentang manusia tak terjangkauku. Kembali pada sosok ia yang nyata kini.
Haruskah aku?
Kini waktu sudah melewati 2 pekan sejak kulihat senja terakhir di kota Jeddah. Sejak kutinggalkan ia, lelaki padang pasirku..
Aaah, lelaki padang pasirku. Kenapa harus kunantimu setiap malam? mungkin terlambat adalah kata yang tepat bila kini kumerindumu seperti bulan yang mencintai malam?
Berharap kau datang, nyata dihadapanku. Berharap kau meninggalkan padang pasir untukku..
Ditulis untuk Cerita Eka
http://ceritaeka.com/2010/08/20/kuis-agustus-di-ceritaeka/
Kenapa harus biru? Apa yang salah dengan warna yang lain?
Aku tersenyum mendengar tanyanya.
Tapi diam-diam aku kembali mempertanyakan hatiku sendiri: “Kenapa biru?”
Juga di dalam hati, aku harus mengakui kalau aku seorang munafik.
Iya, aku munafik!
Aku menjawab pertanyaan terbesarku
yang bergelanyut di kepalaku dengan 1 kata: biru.
Aku berdalih dengan biru
untuk menutupi suasana hatiku yang turun naik tidak karuan.
Aku bahkan
seperti menganggap biru adalah aku, aku adalah biru.
Perlahan, biru telah menyamarkan kehadiranku sendiri. Aku enggan untuk mengakui hatiku sendiri, dan memilih jawaban termudah.
Biru.
Jujur, aku benci biru.
Sama seperti aku membenci dia.
Aku tahu,
aku dan biru seperti minyak dan air..
tak bisa menyatu.
Biru=dia.
Aku benci biru.




