Dear mama..
malam ini Yaya liat tanggalan dan udah 160 hari berlalu sejak mama pergi.
Mama, Yaya belajar mengingat mama
tanpa perlu ada airmata
Yang Yaya inget sekarang semua kenangan kita berdua saja.
Jaman kita shopping bareng, nyalon bareng, makan berdua..hmmm I miss those moments, ma. Ma, setiap sudut di rumah ini selalu ngingetin Yaya sama mama. Dan selalu ada momen yang Yaya rasanya pengennya cerita sama mama aja karena Yaya tau cuman mama yang bakal mengerti, mendengarkan tanpa menghakimi cerita Yaya. Sekarangpun di saat Yaya sedih akan sesuatu, Yaya berusaha mengingat kalimat-kalimat mama kalau lagi menghibur Yaya.
Ma, I wish you were here to see kakak yang InsyaAllah bulan depan Senior Diamond. Kakak hebat ya ma
Kenapa harus biru? Apa yang salah dengan warna yang lain?
Aku tersenyum mendengar tanyanya.
Tapi diam-diam aku kembali mempertanyakan hatiku sendiri: “Kenapa biru?”
Juga di dalam hati, aku harus mengakui kalau aku seorang munafik.
Iya, aku munafik!
Aku menjawab pertanyaan terbesarku
yang bergelanyut di kepalaku dengan 1 kata: biru.
Aku berdalih dengan biru
untuk menutupi suasana hatiku yang turun naik tidak karuan.
Aku bahkan
seperti menganggap biru adalah aku, aku adalah biru.
Perlahan, biru telah menyamarkan kehadiranku sendiri. Aku enggan untuk mengakui hatiku sendiri, dan memilih jawaban termudah.
Biru.
Jujur, aku benci biru.
Sama seperti aku membenci dia.
Aku tahu,
aku dan biru seperti minyak dan air..
tak bisa menyatu.
Biru=dia.
Aku benci biru.






